Postingan

Hari Bahagiamu

Gambar
Dulu ketika hari bahagiamu datang, aku selalu hadir disitu. Aku ikut merasakan bahagia itu. Kita tersenyum dan tertawa bersama. Kau selalu mengundangku di hari bahagiamu. Entah untuk sekedar menginap dikamarmu atau makan malam bersama di tempat makan favoritmu. Kini ketika kita sama sama sudah bertumbuh dewasa, ketika waktu dan kesibukan menjauhkan kita, untuk mengucapkan selamat pada hari bahagiamupun aku sangat takut dan ragu. Di usiamu yang sudah cukup dewasa untuk mencinta dan dicinta kekasihmu, sudah kusiapkan kado yang aku yakin itu seleramu. Kue kecil sederhana lengkap dengan lilin sudah kusiapkan pula. Tapi apa? Untuk melangkahkan kaki kerumahmu aku ragu. Sampai saat ini hadiah itu masih ada ditanganku. Belum juga kuberikan padamu Entah akan kuberikan atau pada akhirnya hanya akan menjadi kenangan. Rasanya ingin tertawa, kue coklat itu kumakan sendiri akhirnya. Mungkin karena seharusnya itu milikmu, bukan manis yang kurasa, hanya pahit getir yang terasa. Dulu aku...

Maaf

Gambar
Menjadi orang yang baik memang sulit, dan entah mengapa menjadi orang yang buruk itu lebih mudah. Tidak setiap kebaikan yang kita lakukan bisa dinilai orang baik. Jangankan dinilai, dipandangpun rasanya sulit. Namun ketika kita melakukan sesuatu yang buruk sekecil apapun, perbuatan kecil itu akan mejadi besaaar dan tidak terlupakan. Ketika kita berusaha memperbaiki kesalahanpun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika kita memohon maaf, mungkin mudah, namun yang sulit adalah menerima maaf dan memberi maaf setulus-tulusnya. Saya ini manusia biasa, saya bisa bersalah dan saya bisa marah. Saya bisa saja tidak mau meminta maaf karena saya merasa tidak bersalah dan saya bisa saja tidak memberi maaf karena saya merasa saya manusia yang paling benar. Manusiawikan? Dulu saya tidak seburuk ini, entah sejak kapan saya jadi memiliki banyak sifat antagonis dan menyamarkan sifat saya yang polos, sabar, baik hati dan tidak sombong (ini lebay..eh tapi ini serius). Entah sejak kapan dan...

Kado Terdahsyat II

Saya menyesal pernah mempublikasikan sebuah tulisan berjudul "Kado Terdahsyat" di beberapa bulan yang lalu. Tak bisa dipungkiri emosi saya saat itu sedang labil. Sebenarnya tulisan itu saya tulis karena kekesalan saya entah pada siapa karena ketidak-beruntungan saya gagal mendapatkan beasiswa di Universitas yang saya dambakan. Sebelumnya saya begitu bahagia karena saya lulus tes masuk perguruan tinggi tersebut, namun karena saya tahu bapak dan ibu saya tidak mungkin tiba-tiba mendapat segepok uang berpuluh-puluh juta untuk membiayai saya, maka saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa. Ya, tinggal selangkah lagi saya sampai pada impian saya untuk kuliah setelah satu tahun menundanya. Seluruh berkas serta harapan saya sudah saya kumpulkan didalam map berwarna merah. Namanya juga manusia, saya jadi rajin sekali berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan. Saya yang biasanya hanya berdoa ketika sebelum dan sesudah makan serta sebelum tidur (itupun kalau tidak lupa) jadi me...

Ketika Giliranku Kelak

Ibu.. Ketika giliranku kelak, dapatkah aku menjadi sama sepertimu? Punya hati sekuat milikmu, Punya jiwa setegar dirimu, Punya tangan yang seterampil milikmu, Punya kelopak yang mampu membendung air mata sebanyak itu, Punya kesabaran yang tiada batas sepertimu, Sedingin itu menghadapi segala sesuatu, Punya kesejukan seperti yang ada dalam setiap pelukmu, Membuka pintu maaf selebar itu, Mencintai meski berulang-kali disakiti Ibu.. Darimana datangnya semua keajaiban yang ada padamu? Akankah kau wariskan padaku? Ibu.. Bagaimana mungkin kau lakukan sendiri semua itu? Tak pernah sedikitpun kau mengeluh dihadapanku. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali kau meneteskan air matamu. Tanpa ada tempat untuk mencurahkan isi hatimu, Tanpa ada teman yang memberi solusi terbaik untukmu. Ibu.. Sesakit apakah melahirkanku? Sesulit apa membesarkanku? Seberat apa beban yang kau pikul bersama pendamping hidupmu, Ayahku? Meski sehebat itu kau sembunyikan perasaanmu.. Kudengar jerita...

Kado Terdahsyat

Saya membuat tulisan saya sebelumnya ketika dini hari di hari ulang tahun saya. Memang sungguh saya sangat bahagia kala itu. Tapi di siang hari, Tuhan seakan menghukum saya. Tuhan memberi saya kejutan yang sungguh sangat berhasil membuat saya meneteskan air mata. Bukan, bukan karena terharu. Ini bukan pula air mata bahagia. Sebaliknya saya mendapatkan kekecewaan yang mendalam. Entah saya harus apa lagi. Saya hanya bisa menangis meratapi apa yang saya alami. Saya sungguh kecewa pada Tuhan. Tapi saya tidak berani marah padaNya. Kenapa Tuhan begitu sengaja? Kenapa harus hari ini? Hari yang katanya istimewa. Kenapa tidak menunggu hari berikutnya? Saya masih tidak bisa menerima kenyataaan. Mungkin saya terlalu banyak berharap, sehingga kekecewaan ini semakin terasa menyakitkan. Saya sadar saya ini tidak ada apa-apanya dibanding mereka para pesaing saya, tapi ada yang lain yang sungguh tidak pantas mendapatkan harapan saya itu. Mereka mendapatkan. Dosakah saya jika saya menganggap Tuhan t...

Ulang Tahun

Saya sangat bahagia bisa melewati pukul 00.00 tanggal 05 Agustus 2015 ini bersama sahabat-sahabat saya. Bukan disengaja. Ini karena kami memberikan "superlate surprise" pada salah seorang teman kami yang sudah 2 bulan yg lalu berulang-tahun. Dari tahun-ketahun, semakin bertumbuh dewasanya saya, mungkin memang saya masih menganggap ulang tahun itu sesuatu yg spesial. Tapi tidak se"excited" dulu. Dulu sebulan sebelum ulang tahun saya sudah merasa waktu ingin cepat berlalu saja. Tidak sabar menunggu hari itu. Saya selalu mengharapkan kado dari orang-orang didekat saya. Saya sudah membayangkan baju bagus, mainan, boneka, tas, alat tulis, semua yg mungkin akan diberikan pada saya. Saya selalu ingin hari ulang tahun saya meriah. Ingin dirayakan meski hanya dirumah. Membayangkan kue tart, nasi kuning, dekorasi, balon, dll. Menunggu "angpao" ulang tahun dari Yangti, Simbah, Bapak, Ibu, Tante, Pakde, semuanyaa. Waktu cepat berlalu, saya semakin sadar bahwa ul...

Catatan 12 November 2014

Saya tidak akan tahu hari ini adalah hari ayah nasional jika tidak ada seorang teman mengucapkan selamat pada ayah dan calon ayah dari anak-anaknya di sosial media. Seketika lamunan saya tertuju pada sosok yang sangat dekat dengan saya ketika saya masih kecil. Bapak. Ketika kecil saya tidak bisa hidup tanpanya. Saya selalu memegang erat tangannya dimanapun kami pergi. Ingat suatu ketika, dimana hari itu membuat teman-teman saya di taman kanak-kanak tidak mau bermain dengan saya. Waktu itu adalah hari pertama dari semua hari saya disekolah. Entah mengapa saya yang duduk di paling pojok merasa sendirian dan takut. Saya gelisah, mata saya sudah memerah. saya berusaha untuk menyembunyikannya. Tapi ternyata guru yang baru bertemu beberapa kali dengan saya ketika pendaftaran luar biasa hebatnya. Dia bisa membaca gerak-gerik dan raut wajah saya. Dia menghentikan perkenalannya. "Ada apa mbak Tantri?" Pertanyaannya sontak mengagetkan saya. Saya berusaha menjawab dengan suara sendu ...