Ketika Giliranku Kelak
Ibu..
Ketika giliranku kelak, dapatkah aku menjadi sama sepertimu?
Punya hati sekuat milikmu,
Punya jiwa setegar dirimu,
Punya tangan yang seterampil milikmu,
Punya kelopak yang mampu membendung air mata sebanyak itu,
Punya kesabaran yang tiada batas sepertimu,
Sedingin itu menghadapi segala sesuatu,
Punya kesejukan seperti yang ada dalam setiap pelukmu,
Membuka pintu maaf selebar itu,
Mencintai meski berulang-kali disakiti
Ibu..
Darimana datangnya semua keajaiban yang ada padamu?
Akankah kau wariskan padaku?
Ibu..
Bagaimana mungkin kau lakukan sendiri semua itu?
Tak pernah sedikitpun kau mengeluh dihadapanku.
Bahkan aku lupa kapan terakhir kali kau meneteskan air matamu.
Tanpa ada tempat untuk mencurahkan isi hatimu,
Tanpa ada teman yang memberi solusi terbaik untukmu.
Ibu..
Sesakit apakah melahirkanku?
Sesulit apa membesarkanku?
Seberat apa beban yang kau pikul bersama pendamping hidupmu, Ayahku?
Meski sehebat itu kau sembunyikan perasaanmu..
Kudengar jeritan dalam hatimu ketika aku mengeluhkan masalahku dalam pelukmu,
Ibu..
Kudengar suara dari perutmu ketika kau beri makanan terakhirmu untukku.
Ibu..
Dapatkah kubahagiakan dirimu?
Ibu..
Bisakah kulindungimu dari semua yang berusaha menyakitimu?
Ibu..
Ketika giliranku kelak, akankah aku bisa menjadi seperti dirimu?
Ketika giliranku kelak, dapatkah aku menjadi sama sepertimu?
Punya hati sekuat milikmu,
Punya jiwa setegar dirimu,
Punya tangan yang seterampil milikmu,
Punya kelopak yang mampu membendung air mata sebanyak itu,
Punya kesabaran yang tiada batas sepertimu,
Sedingin itu menghadapi segala sesuatu,
Punya kesejukan seperti yang ada dalam setiap pelukmu,
Membuka pintu maaf selebar itu,
Mencintai meski berulang-kali disakiti
Ibu..
Darimana datangnya semua keajaiban yang ada padamu?
Akankah kau wariskan padaku?
Ibu..
Bagaimana mungkin kau lakukan sendiri semua itu?
Tak pernah sedikitpun kau mengeluh dihadapanku.
Bahkan aku lupa kapan terakhir kali kau meneteskan air matamu.
Tanpa ada tempat untuk mencurahkan isi hatimu,
Tanpa ada teman yang memberi solusi terbaik untukmu.
Ibu..
Sesakit apakah melahirkanku?
Sesulit apa membesarkanku?
Seberat apa beban yang kau pikul bersama pendamping hidupmu, Ayahku?
Meski sehebat itu kau sembunyikan perasaanmu..
Kudengar jeritan dalam hatimu ketika aku mengeluhkan masalahku dalam pelukmu,
Ibu..
Kudengar suara dari perutmu ketika kau beri makanan terakhirmu untukku.
Ibu..
Dapatkah kubahagiakan dirimu?
Ibu..
Bisakah kulindungimu dari semua yang berusaha menyakitimu?
Ibu..
Ketika giliranku kelak, akankah aku bisa menjadi seperti dirimu?
Komentar
Posting Komentar