Hari Bahagiamu

Dulu ketika hari bahagiamu datang, aku selalu hadir disitu.
Aku ikut merasakan bahagia itu. Kita tersenyum dan tertawa bersama.
Kau selalu mengundangku di hari bahagiamu.
Entah untuk sekedar menginap dikamarmu atau makan malam bersama di tempat makan favoritmu.
Kini ketika kita sama sama sudah bertumbuh dewasa, ketika waktu dan kesibukan menjauhkan kita, untuk mengucapkan selamat pada hari bahagiamupun aku sangat takut dan ragu.

Di usiamu yang sudah cukup dewasa untuk mencinta dan dicinta kekasihmu, sudah kusiapkan kado yang aku yakin itu seleramu.
Kue kecil sederhana lengkap dengan lilin sudah kusiapkan pula.
Tapi apa? Untuk melangkahkan kaki kerumahmu aku ragu.
Sampai saat ini hadiah itu masih ada ditanganku. Belum juga kuberikan padamu
Entah akan kuberikan atau pada akhirnya hanya akan menjadi kenangan.

Rasanya ingin tertawa, kue coklat itu kumakan sendiri akhirnya.
Mungkin karena seharusnya itu milikmu, bukan manis yang kurasa, hanya pahit getir yang terasa.
Dulu aku selalu berangan-angan untuk mengenalkanmu pada teman-teman baruku. "Hai..ini sahabat (dari) kecilku"
Tapi ternyata kamu hanyalah sahabat (masa) kecilku.

Kini semua hanya menjadi kenangan bagimu, atau bahkan tidak pernah kau kenang?
Jika kau semudah itu melupakan kisah itu, mengapa aku tidak mencoba melewati jalan yang kau pilih? Mengakhiri kisah masa kecil dan mencoba merangkai kisah baru.
Dan aku berharap kau tak lagi mencariku, jangan lagi datang padaku ketika kau kehilangan lagi kebahagiaan itu. Karena mungkin aku sudah mencapai titik dimana kau temukan kebahagiaanmu.
Karena kamu sama sepertiku yang hanya sebuah kisah masa lalumu.

Terimakasih pernah menjadi bagian dari kisah hidupku.

Komentar