Kado Terdahsyat
Saya membuat tulisan saya sebelumnya ketika dini hari di hari ulang tahun saya. Memang sungguh saya sangat bahagia kala itu. Tapi di siang hari, Tuhan seakan menghukum saya. Tuhan memberi saya kejutan yang sungguh sangat berhasil membuat saya meneteskan air mata. Bukan, bukan karena terharu. Ini bukan pula air mata bahagia. Sebaliknya saya mendapatkan kekecewaan yang mendalam. Entah saya harus apa lagi. Saya hanya bisa menangis meratapi apa yang saya alami.
Saya sungguh kecewa pada Tuhan. Tapi saya tidak berani marah padaNya. Kenapa Tuhan begitu sengaja? Kenapa harus hari ini? Hari yang katanya istimewa. Kenapa tidak menunggu hari berikutnya? Saya masih tidak bisa menerima kenyataaan. Mungkin saya terlalu banyak berharap, sehingga kekecewaan ini semakin terasa menyakitkan. Saya sadar saya ini tidak ada apa-apanya dibanding mereka para pesaing saya, tapi ada yang lain yang sungguh tidak pantas mendapatkan harapan saya itu. Mereka mendapatkan. Dosakah saya jika saya menganggap Tuhan tidak adil? Saya hanya manusia biasa. Iman saya tidak cukup kuat untuk mensyukuri semua peristiwa sedih yang saya alami.
Lalu saya harus apa kali ini? Saya terlalu malu untuk kembali melangkah. Bukan hanya malu, sudah lelah lebih tepatnya. Saya bukan orang optimis dan ambisius yang selalu terus berjuang meski jatuh berkali-kali. Saya merasa harus menyerah. Tapi menyerahpun saya tetap harus menentukan apa yang akan saya lakukan untuk hidup saya ini.
Saya harus apaa??
Saya sungguh kecewa pada Tuhan. Tapi saya tidak berani marah padaNya. Kenapa Tuhan begitu sengaja? Kenapa harus hari ini? Hari yang katanya istimewa. Kenapa tidak menunggu hari berikutnya? Saya masih tidak bisa menerima kenyataaan. Mungkin saya terlalu banyak berharap, sehingga kekecewaan ini semakin terasa menyakitkan. Saya sadar saya ini tidak ada apa-apanya dibanding mereka para pesaing saya, tapi ada yang lain yang sungguh tidak pantas mendapatkan harapan saya itu. Mereka mendapatkan. Dosakah saya jika saya menganggap Tuhan tidak adil? Saya hanya manusia biasa. Iman saya tidak cukup kuat untuk mensyukuri semua peristiwa sedih yang saya alami.
Lalu saya harus apa kali ini? Saya terlalu malu untuk kembali melangkah. Bukan hanya malu, sudah lelah lebih tepatnya. Saya bukan orang optimis dan ambisius yang selalu terus berjuang meski jatuh berkali-kali. Saya merasa harus menyerah. Tapi menyerahpun saya tetap harus menentukan apa yang akan saya lakukan untuk hidup saya ini.
Saya harus apaa??
Komentar
Posting Komentar