Maaf
Menjadi orang yang baik memang sulit, dan entah mengapa menjadi orang yang buruk itu lebih mudah. Tidak setiap kebaikan yang kita lakukan bisa dinilai orang baik. Jangankan dinilai, dipandangpun rasanya sulit. Namun ketika kita melakukan sesuatu yang buruk sekecil apapun, perbuatan kecil itu akan mejadi besaaar dan tidak terlupakan.
Ketika kita berusaha memperbaiki kesalahanpun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika kita memohon maaf, mungkin mudah, namun yang sulit adalah menerima maaf dan memberi maaf setulus-tulusnya. Saya ini manusia biasa, saya bisa bersalah dan saya bisa marah. Saya bisa saja tidak mau meminta maaf karena saya merasa tidak bersalah dan saya bisa saja tidak memberi maaf karena saya merasa saya manusia yang paling benar. Manusiawikan?
Dulu saya tidak seburuk ini, entah sejak kapan saya jadi memiliki banyak sifat antagonis dan menyamarkan sifat saya yang polos, sabar, baik hati dan tidak sombong (ini lebay..eh tapi ini serius). Entah sejak kapan dan meniru tingkah laku siapa, semakin bertambah tua bukannya saya semakin dewasa dan bisa ngemong, saya malah bertambah childhish dan egois. Saya semakin sering menyakiti orang-orang disekitar saya yang saya cintai dan mencintai saya. Saya merusak persahabatan dan kepercayaan yang susah-payah saya bangun sendiri. Saya tidak bisa mengontrol mulut saya. Saya semakin layak dijuluki biang gosip dan tidak sedikit yang sakit hati karena komentar pedas saya. Saya tidak bisa membela diri saya dengan berkata "saya tidak sengaja" karena secara sadar penuh saya mengatakan hal-hal menyakitkan itu. Saya tidak bisa mengontrol diri saya sendiri.
Saya menyesal, saya sungguh menyesali perbuatan-perbuatan saya terutama karena sifat saya yang menginginkan semua orang memahami saya. Kini permintaan maaf setulus-tulusnyapun sudah tidak lagi berguna. Meski mereka bilang sudah memaafkan saya, saya tahu ada dendam masih terselip disana dan tidak mungkin lagi terhapus. Saya juga manusia yang mungkin akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada saya. Saya kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang saya cinta. Saya merusak nama saya sendiri. Saya bukan lagi saya yang polos dan rendah hati. Saya menjadi tokoh antagonis dalam sebuah drama. Jangankan orang lain, saya membenci diri saya sendiri.
Saya menyesal, saya ingin memulai lagi dari awal. Saya tidak ingin menyakiti orang lain lagi. Saya akan berusaha menjadi saya yang dulu. Jika saja waktu dapat terulang lagi, ingin saya hapus kenangan buruk yang membuat masa ini semakin buruk. Tolong maafkan saya..
Ketika kita berusaha memperbaiki kesalahanpun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika kita memohon maaf, mungkin mudah, namun yang sulit adalah menerima maaf dan memberi maaf setulus-tulusnya. Saya ini manusia biasa, saya bisa bersalah dan saya bisa marah. Saya bisa saja tidak mau meminta maaf karena saya merasa tidak bersalah dan saya bisa saja tidak memberi maaf karena saya merasa saya manusia yang paling benar. Manusiawikan?
Dulu saya tidak seburuk ini, entah sejak kapan saya jadi memiliki banyak sifat antagonis dan menyamarkan sifat saya yang polos, sabar, baik hati dan tidak sombong (ini lebay..eh tapi ini serius). Entah sejak kapan dan meniru tingkah laku siapa, semakin bertambah tua bukannya saya semakin dewasa dan bisa ngemong, saya malah bertambah childhish dan egois. Saya semakin sering menyakiti orang-orang disekitar saya yang saya cintai dan mencintai saya. Saya merusak persahabatan dan kepercayaan yang susah-payah saya bangun sendiri. Saya tidak bisa mengontrol mulut saya. Saya semakin layak dijuluki biang gosip dan tidak sedikit yang sakit hati karena komentar pedas saya. Saya tidak bisa membela diri saya dengan berkata "saya tidak sengaja" karena secara sadar penuh saya mengatakan hal-hal menyakitkan itu. Saya tidak bisa mengontrol diri saya sendiri.
Saya menyesal, saya sungguh menyesali perbuatan-perbuatan saya terutama karena sifat saya yang menginginkan semua orang memahami saya. Kini permintaan maaf setulus-tulusnyapun sudah tidak lagi berguna. Meski mereka bilang sudah memaafkan saya, saya tahu ada dendam masih terselip disana dan tidak mungkin lagi terhapus. Saya juga manusia yang mungkin akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada saya. Saya kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang saya cinta. Saya merusak nama saya sendiri. Saya bukan lagi saya yang polos dan rendah hati. Saya menjadi tokoh antagonis dalam sebuah drama. Jangankan orang lain, saya membenci diri saya sendiri.
Saya menyesal, saya ingin memulai lagi dari awal. Saya tidak ingin menyakiti orang lain lagi. Saya akan berusaha menjadi saya yang dulu. Jika saja waktu dapat terulang lagi, ingin saya hapus kenangan buruk yang membuat masa ini semakin buruk. Tolong maafkan saya..
Kamis dengan kisah miris karena suka sinis di warung internet Jetis

Komentar
Posting Komentar