Kado Terdahsyat II

Saya menyesal pernah mempublikasikan sebuah tulisan berjudul "Kado Terdahsyat" di beberapa bulan yang lalu. Tak bisa dipungkiri emosi saya saat itu sedang labil. Sebenarnya tulisan itu saya tulis karena kekesalan saya entah pada siapa karena ketidak-beruntungan saya gagal mendapatkan beasiswa di Universitas yang saya dambakan. Sebelumnya saya begitu bahagia karena saya lulus tes masuk perguruan tinggi tersebut, namun karena saya tahu bapak dan ibu saya tidak mungkin tiba-tiba mendapat segepok uang berpuluh-puluh juta untuk membiayai saya, maka saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa. Ya, tinggal selangkah lagi saya sampai pada impian saya untuk kuliah setelah satu tahun menundanya. Seluruh berkas serta harapan saya sudah saya kumpulkan didalam map berwarna merah.

Namanya juga manusia, saya jadi rajin sekali berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan. Saya yang biasanya hanya berdoa ketika sebelum dan sesudah makan serta sebelum tidur (itupun kalau tidak lupa) jadi menambah dosis doa saya. yang biasanya hanya satu-dua menit doa spontan, karena saya sedang banyak permohonan jadi bermenit-menit berdoa, doanyapun komplit dari doa spontan, 3xSalam Maria, Bapa Kami, Aku Percaya, Doa 7 Karunia Roh Kudus, dan masih banyak lagi. Saya yang mungkin hanya akan ziarah ke Gua Maria setahun sekali dengan rombongan lingkungan, jadi lebih sering datang berkunjung ke Gua Maria untuk memohon intensi.

Dengan semua doa dan usaha saya untuk mendapatkan beasiswa itu, saya hanya bisa menunggu dan berpasrah, namun tidak dipungkiri sebenarnya saya tidak sepenuhnya berpasrah, saya lebih banyak berharap. Saya juga berpikir bahwa Tuhan tidak mungkin tidak mengabulkan doa-doa saya. Sebentar lagikan ulang tahun saya. Kado yang paling saya inginkan hanyalah ini.

Dan tepat di hari ulang tahun saya, di tengah kebahagiaan saya menyaksikan kepedulian teman-teman, sahabat dan saudara-saudara saya pada saya. Saya serasa dijatuhkan dari ketinggian. Saya berharap terlalu tinggi hingga saya tidak dapat meraihnya. Saya gagal mendapat beasiswa itu. Menangis, berteriak, uring-uringan. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Entah mengapa ketika itu saya memilih untuk lari ke rumah Eyang Kakung. Mungkin karena Yangkung saya sudah berkurang pendengarannya, jadi kalau saya menangis sekeras-kerasnya, Beliau tidak akan mendengar (hehe,,piss kung)

Saya bingung harus apa. Harapan ini bukan hanya milik saya, tapi juga milik orangtua saya. Saya harus bagaimana mengatakannya? saya bingung! Hari demi hari saya hanya luntang-lantung entah mau apa. Saya masih belum berhasil mengumpulkan lagi mental saya untuk melamar pekerjaan atau mencari kesempatan di perguruan tinggi lain atau tempat-tempat kursus.

ditengah kebimbangan saya, Tuhan memberikan sebuah mujizat. Ya, ini mujizat bagi saya. Saya ditawari untuk masuk keperguruan tinggi. Pemirsa, saya dicari bukan mendaftar, Ini sungguh luar biasa. Saya ingat hari itu hari sabtu. Saya sedang membantu-bantu seorang sahabat saya yang rumahnya sedang diadakan sebuah acara. Disitu saya mendapat tawaran dari orangtua teman saya yang lain. Paginya saya langsung diantar ke rumah Bapak Dosen. Sore saya diharuskan datang lagi dengan Bapak saya. Dan Hari Senin saya sudah datang ke kampus untuk persiapan Ospek. Yeeaaah...akhirnya saya kuliah. Ini seperti sesuatu yang mustahil namun terjadi.

Ternyata ketidak-beruntungan saya kemarin hanyalah bagian dari skenario Tuhan untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk saya. Luaar biasaa.. Thanks God for your surprise! Iam really happy. Ini kado terindah dan terdahsyat yang pernah saya dapatkan. Yang saya dapat dengan perjalanan yang indah pula.

Tuhan itu baik, dan akan terus baik meski apa yang telah saya lakukan, meski berulangkali saya melukai hatiNya. Tuhan tetap baik dan peduli pada saya. Thanks God, Iam yours!

 

Komentar