Catatan 12 November 2014
Saya tidak akan tahu hari ini adalah hari ayah nasional jika tidak ada seorang teman mengucapkan selamat pada ayah dan calon ayah dari anak-anaknya di sosial media. Seketika lamunan saya tertuju pada sosok yang sangat dekat dengan saya ketika saya masih kecil. Bapak. Ketika kecil saya tidak bisa hidup tanpanya. Saya selalu memegang erat tangannya dimanapun kami pergi.
Ingat suatu ketika, dimana hari itu membuat teman-teman saya di taman kanak-kanak tidak mau bermain dengan saya. Waktu itu adalah hari pertama dari semua hari saya disekolah. Entah mengapa saya yang duduk di paling pojok merasa sendirian dan takut. Saya gelisah, mata saya sudah memerah. saya berusaha untuk menyembunyikannya. Tapi ternyata guru yang baru bertemu beberapa kali dengan saya ketika pendaftaran luar biasa hebatnya. Dia bisa membaca gerak-gerik dan raut wajah saya. Dia menghentikan perkenalannya. "Ada apa mbak Tantri?" Pertanyaannya sontak mengagetkan saya. Saya berusaha menjawab dengan suara sendu dan ragu "Bapak..". Lalu Ibu yang hampir berkepala tiga itu menunjuk kearah luar "itu ada Ibu". Aku mencari-cari sosok ibuku dari celah-celah jendela. Ibuku melambaikan tangannya sambil tersenyum. Tapi saya malah menangis meronta, menggebrak-gebrak meja "Bapak,.Bapak.." dan sejak saat itu saya tidak memiliki teman untuk diajak bermain. Saya selalu sendiri disekolah. Saya selalu ingin segera pulang dan bermain dengan Bapak.
Para tetangga sering berkata kalau saya adalah anak Bapak saya. Terutama karena saya anak perempuan satu-satunya dan saya anak bungsu. Jujur saja saya adalah anak manja yang dimanja. Sampai saya merasa Kakak laki-laki saya satu-satunya iri pada saya. Sampai saya merasa Ibu saya jengkel karena Bapak terlalu memanjakan saya.
Tapi Entah mengapa semakin saya dewasa kedekatan itu semakin merenggang. Semakin bertambahnya usia saya semakin saya jarang berbicara dengan Bapak. Kami bicara seperlunya. Mengangguk jika "ya", menggelengkan kepala jika "tidak". Kami jarang sekali bercanda.
Saya teringat sebuah judul cerpen "Bapak Bukanlah Ombak". Yaa.. kini hanya mengalir tenang.
Bukankah kasih sayangnya tidak harus diungkapkan dengan kata-kata? Mengantar-menjemputku kemanapun dan kapanpun. Bekerja banting tulang berjualan kesana kemari, meski hujan dan panas terik matahari. Sudah cukup menyatakan kasihnya pada saya. Meski kadang ada saja rasa jengkel karena sifat dan sikapnya. Tapi dia Bapak saya. Saya mencintainya.
Selamat Hari Ayah Nasional, Pak.
Aku mencintaimu dalam diam.
Tertanda
Anakmu
Ingat suatu ketika, dimana hari itu membuat teman-teman saya di taman kanak-kanak tidak mau bermain dengan saya. Waktu itu adalah hari pertama dari semua hari saya disekolah. Entah mengapa saya yang duduk di paling pojok merasa sendirian dan takut. Saya gelisah, mata saya sudah memerah. saya berusaha untuk menyembunyikannya. Tapi ternyata guru yang baru bertemu beberapa kali dengan saya ketika pendaftaran luar biasa hebatnya. Dia bisa membaca gerak-gerik dan raut wajah saya. Dia menghentikan perkenalannya. "Ada apa mbak Tantri?" Pertanyaannya sontak mengagetkan saya. Saya berusaha menjawab dengan suara sendu dan ragu "Bapak..". Lalu Ibu yang hampir berkepala tiga itu menunjuk kearah luar "itu ada Ibu". Aku mencari-cari sosok ibuku dari celah-celah jendela. Ibuku melambaikan tangannya sambil tersenyum. Tapi saya malah menangis meronta, menggebrak-gebrak meja "Bapak,.Bapak.." dan sejak saat itu saya tidak memiliki teman untuk diajak bermain. Saya selalu sendiri disekolah. Saya selalu ingin segera pulang dan bermain dengan Bapak.
Para tetangga sering berkata kalau saya adalah anak Bapak saya. Terutama karena saya anak perempuan satu-satunya dan saya anak bungsu. Jujur saja saya adalah anak manja yang dimanja. Sampai saya merasa Kakak laki-laki saya satu-satunya iri pada saya. Sampai saya merasa Ibu saya jengkel karena Bapak terlalu memanjakan saya.
Tapi Entah mengapa semakin saya dewasa kedekatan itu semakin merenggang. Semakin bertambahnya usia saya semakin saya jarang berbicara dengan Bapak. Kami bicara seperlunya. Mengangguk jika "ya", menggelengkan kepala jika "tidak". Kami jarang sekali bercanda.
Saya teringat sebuah judul cerpen "Bapak Bukanlah Ombak". Yaa.. kini hanya mengalir tenang.
Bukankah kasih sayangnya tidak harus diungkapkan dengan kata-kata? Mengantar-menjemputku kemanapun dan kapanpun. Bekerja banting tulang berjualan kesana kemari, meski hujan dan panas terik matahari. Sudah cukup menyatakan kasihnya pada saya. Meski kadang ada saja rasa jengkel karena sifat dan sikapnya. Tapi dia Bapak saya. Saya mencintainya.
Selamat Hari Ayah Nasional, Pak.
Aku mencintaimu dalam diam.
Tertanda
Anakmu
Komentar
Posting Komentar