Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Hari Bahagiamu

Gambar
Dulu ketika hari bahagiamu datang, aku selalu hadir disitu. Aku ikut merasakan bahagia itu. Kita tersenyum dan tertawa bersama. Kau selalu mengundangku di hari bahagiamu. Entah untuk sekedar menginap dikamarmu atau makan malam bersama di tempat makan favoritmu. Kini ketika kita sama sama sudah bertumbuh dewasa, ketika waktu dan kesibukan menjauhkan kita, untuk mengucapkan selamat pada hari bahagiamupun aku sangat takut dan ragu. Di usiamu yang sudah cukup dewasa untuk mencinta dan dicinta kekasihmu, sudah kusiapkan kado yang aku yakin itu seleramu. Kue kecil sederhana lengkap dengan lilin sudah kusiapkan pula. Tapi apa? Untuk melangkahkan kaki kerumahmu aku ragu. Sampai saat ini hadiah itu masih ada ditanganku. Belum juga kuberikan padamu Entah akan kuberikan atau pada akhirnya hanya akan menjadi kenangan. Rasanya ingin tertawa, kue coklat itu kumakan sendiri akhirnya. Mungkin karena seharusnya itu milikmu, bukan manis yang kurasa, hanya pahit getir yang terasa. Dulu aku...

Maaf

Gambar
Menjadi orang yang baik memang sulit, dan entah mengapa menjadi orang yang buruk itu lebih mudah. Tidak setiap kebaikan yang kita lakukan bisa dinilai orang baik. Jangankan dinilai, dipandangpun rasanya sulit. Namun ketika kita melakukan sesuatu yang buruk sekecil apapun, perbuatan kecil itu akan mejadi besaaar dan tidak terlupakan. Ketika kita berusaha memperbaiki kesalahanpun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika kita memohon maaf, mungkin mudah, namun yang sulit adalah menerima maaf dan memberi maaf setulus-tulusnya. Saya ini manusia biasa, saya bisa bersalah dan saya bisa marah. Saya bisa saja tidak mau meminta maaf karena saya merasa tidak bersalah dan saya bisa saja tidak memberi maaf karena saya merasa saya manusia yang paling benar. Manusiawikan? Dulu saya tidak seburuk ini, entah sejak kapan saya jadi memiliki banyak sifat antagonis dan menyamarkan sifat saya yang polos, sabar, baik hati dan tidak sombong (ini lebay..eh tapi ini serius). Entah sejak kapan dan...

Kado Terdahsyat II

Saya menyesal pernah mempublikasikan sebuah tulisan berjudul "Kado Terdahsyat" di beberapa bulan yang lalu. Tak bisa dipungkiri emosi saya saat itu sedang labil. Sebenarnya tulisan itu saya tulis karena kekesalan saya entah pada siapa karena ketidak-beruntungan saya gagal mendapatkan beasiswa di Universitas yang saya dambakan. Sebelumnya saya begitu bahagia karena saya lulus tes masuk perguruan tinggi tersebut, namun karena saya tahu bapak dan ibu saya tidak mungkin tiba-tiba mendapat segepok uang berpuluh-puluh juta untuk membiayai saya, maka saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa. Ya, tinggal selangkah lagi saya sampai pada impian saya untuk kuliah setelah satu tahun menundanya. Seluruh berkas serta harapan saya sudah saya kumpulkan didalam map berwarna merah. Namanya juga manusia, saya jadi rajin sekali berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan. Saya yang biasanya hanya berdoa ketika sebelum dan sesudah makan serta sebelum tidur (itupun kalau tidak lupa) jadi me...