Malioboro

Malioboro

Aku berjalan dari Museum tua dekat pasar malam itu.Aku berjalan menuju titik 0 kilometer Kota Budaya ini. Ramai.. Sampai sampai aku meragukan langkahku berjalan diatas penyebrangan itu. Aku terus berjalan melintasi waktu.Banyak cerita disini. Pedagang kaki lima menjanjakan barang dagangannya.Pengemis, pengamen,gelandangan, berandalan, bahkan orang yang kehilangan kewarasannya karena memikul beban berat dalam hidupnya 'berceceran' disini. Dari yang dewasa, hingga sikecil yang sudah diajari minta-minta. Dimana mereka? Dimana yang katanya empunya tanggung jawab mengatur ini semua? Tak pernah kulihat batang hidungnya.
Jogja..Tak lagi berhati nyaman.

Lalu aku memasuki kawasan belanja terpopuler di Jogja.Pedagang kaki lima disini terlihat telah akrab. Bertahun-tahun bersama. Mengadu nasib dalam kejamnya dunia.Banyak proses tawar-menawar disepanjang jalan ini.
Lalu kudengar alunan musik syahdu. Ternyata penarik becak bermain seruling bambu. Lalu untuk yang kedua kalinya aku mendengar musisi jalanan memainkan alat musik tradisionalnya. Mengagumkan.

Tiba-tiba ada seorang Ibu dengan jilbab putihnya menggerutu "biarin! Biar malu diliatin orang orang" aku tak mengerti apa maksud Ibu yang berbicara sendiri itu. Tapi beberapa detik kemudian seorang anak berwajah SMP berjongkok, tas berisi belanjaan dijatuhkannya. Tangannya menutup telinganya. Sembari menangis dia menjerit "Mamaaahh.." semua mata langsung tertuju padanya. Seorang nenek tua dengan kebaya kusam bertanya dengan bahasa Jawa "Anake sopo kui?"tapi pedagang berlogat Sunda yang diberi pertanyaan itu menjawab "nggak tau" hmm..mungkin meminta sesuatu dan tidak dibelikan,pikirku.

Aku terus berjalan dengan langkah-langkah kecilku. Didepan restoran Amerika, ada anak kecil menangis dipelukan ibunya karena digoda seorang pria paruh baya. Dan aku dihibur oleh Fotografer nakal yang memotret seorang penarik becak yang sedang tidur pulas dengan mulut menganga. Seorang tukang becak menawarkan pada wisatawan "Mari Bakpianya!" dia penarik becak atau pedagang bakpia? Batinku tertawa.

Komentar